Judul

SEJARAH DAN WARISAN BUDAYA DI DESA PANGKALAN INDARUNG


Disusun Oleh

Aprilia Anelsi

PENDAHULUAN

Desa Pangkalan Indarung merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Desa ini dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam yang masih sangat asri serta adat dan budaya yang masih terjaga dengan baik di tengah masyarakat. Keindahan alamnya yang tersembunyi di balik perbukitan dan hutan menjadikan desa ini sebagai salah satu potensi wisata yang menarik untuk dikembangkan.

Namun demikian, keterbatasan akses transportasi, infrastruktur, serta minimnya informasi mengenai desa ini menyebabkan Pangkalan Indarung belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, desa ini memiliki berbagai potensi, mulai dari sejarah panjang terbentuknya desa, kehidupan sosial ekonomi masyarakat, hingga kekayaan wisata alam seperti sungai, air terjun, dan tradisi budaya yang unik.

Berdasarkan hal tersebut, penulisan tugas ini bertujuan untuk mengkaji dan memperkenalkan Desa Pangkalan Indarung secara lebih mendalam, meliputi aspek sejarah, kondisi geografis, kependudukan, potensi ekonomi, serta kekayaan budaya dan wisata yang dimiliki. Dengan adanya tugas ini, diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah wawasan bagi pembaca, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan potensi desa ke arah yang lebih baik B. Kondisi Wilayah
1. Letak Geografis
Desa pangkalan indarung terletak di kecamatan Singingi, bagian Utara Kabupaten Kuantan Singingi. Secara umum berbatasan dengan area hutan dan perkebunan di kecamatan Singingi.
2. Letak Astronomis
Pangakalan Indarung Lintang karena berada dalam wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, letak astronomisnya mengikuti posisi kabupaten tersebut, yaitu:
Lintang: 0Āŗ00' - 1Āŗ00' Lintang Selatan (LS).
Bujur: 101Āŗ02' - 101Āŗ55' Bujur Timur (BT).
Ketinggian: Secara umum, Kabupaten Kuantan Singingi berada pada ketinggian 25-30 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun Pangkalan Indarung terletak lebih tinggi dari rata-rata tersebut.
C. Pengenalan Umum
Desa Pangkalan Indarung adalah desa terluar di Kecamatan Singingi. Desa ini terletak di pinggir Sungai Singingi arah utara dari Ibukota kecamatan, Muara Lembu yang berjarak sekitar 30km. Kondisi geografis yang berbukit-bukit menyulitkan akses masuk ke desa tersebut, karena untuk masuk ke Desa Pangkalan Indarung hanya melalui satu jalur. Yaitu melalui simpang Desa Pulau Padang, di depan pasar Muara Lembu. Jarak tempuh dari Muara Lembu hingga ke Pangkalan Indarung bisa menghabiskan waktu 1 jam. Karena masih ada sebagian jalan yang belum diaspal menjadi kendala. Total ada sekitar 8 km jalanan belum diaspal dengan tanjakan dan turunan curam.

Sebelum tahun 2019, Pangkalan Indarung adalah satu-satunya desa di Kabupaten Kuantan Singingi yang belum teraliri listrik PLN. Selama ini, masyarakat Pangkalan Indarung menggunakan listrik yang bersumber dari PLTS yang dibangun pada tahun 2013. Tak hanya listrik, desa ini juga kesulitan dalam jaringan internet.

Ke Pangkalan Indarung bisa digapai dari semua daerah yang ada di Sumatera. Dari Kota Pekanbaru. misalnya, naik travel atau kendaraan pribadi menuju arah Taluk Kuantan. Tepatnya di Muara lembu, 35km sebelum Taluk Kuantan. Total jarak Pekanbaru ke Muara Lembu sekitar 133 km dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Tarif travel dari Pekanbaru berkisar Rp80.000,- namun harus dilanjutkan dengan menyewa kendaraan hingga sampai desa, karena tidak ada angkutan ke desa. Baiknya anda mem-bawa kendaraan sendiri.

Di depan pasar Muara Lembu ada satu simpang dengan plang bertuliskan Desa Pulau Padang. Dari simpang ini langsung jalan menuju Pangkalan Indarung, karena itu satu-satunya akses darat ke Pangkalan Indarung. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Dengan jalanan masih sepi, tanjakan dan turunan dikelilingi hutan dan bukit. Sepanjang jalan tampak kebun sawit dan karet. Desa ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang suka berpetualang dan menjelajahi alam. Terlebih bagi Anda yang jenuh akan kesibukan dan hiruk-pikuk kota.

D. Sejarah awal Desa
Desa Pangkalan Indarung, salah satu Desa tertua di Kecamatan Singingi yang berdiri pada abad ke 2 sebelum masehi. Dahulunya Desa ini mengalami beberapa kali perpindahan.
Dikisahkan ada tiga orang kakak-beradik dari Pagaruyung yang menjelajahi Pulau Nangka. Kakak yang paling tua singgah di Alau ageh (sekarang bernama Logas), yang tengah di Muaro Simpang (sekarang bernama Muara Lembu), dan yang bungsu singgah di Rantau Paranginan Pituan. Bungsu dari tiga bersaudara itu meneruskan perjalanan dengan menghulukan sungai, yaitu Ninik Tompo Air atau dikenal dengan Ninik Putih Darah Tunjuk ialah orang pertama ke Pangkalan Indarung.
Menapaklah ia di Tanah Kareh, negeri pertama yang disinggahi, terletak sebelah kanan hulu Sungai Singiang-ngiang. Sungai itu akhirnya berganti nama menjadi Sungai Singingi. Kemudian banyak orang yang datang ke negeri itu, lalu berganti nama menjadi Taratak Kareh dan bertambahlah tempat itu ke Ujung Bukit. Di Ujung Bukit atau bernama Koto Tuo yang merupakan negeri kedua. Dan sekarang Koto Tuo itu menjadi tanah kuburan yang terbagi menjadi beberapa bagian, dan itu dibagi dengan menurut suku masing-masing oleh warga desa.
Dari Ujung Bukit pindah lagi ke Koto Lamo, arah hulu Sungai Singingi. Na-mun, di negeri ini masyarakat terancam oleh serangan harimau dan binatang buas yang selalu menganggu dan memangsa penduduk setempat, karena takut akan memakan banyak korban lagi maka masyarakat setempat sepakat untuk pindah ke Negeri Balik Parit.

Negeri Balik Parit merupakan tempat perpindahan keempat, dinamakan Balik Parit karena negeri ini berparit di sekelilingnya. Pada masa itu datang lah Raja Pituan Gadi dari Pagaruyung, keturunan yang ketujuh dari Bundo Kandung. Lalu Dibakarnya kemenyan putih, Raja Pituan Gadi dengan 44 pengiringnya berjalan mendaki Bukit Mandi Angin, menuruni Lurah Muaro Bono, menempuh Hutan Badangusan, meniti Titian Jungkang-Jungkitan, melalui Hutan Panjang, serta Bukit Panyamuan, lalu menurun ke Sungai Ameh. Bertanyalah Raja Pituan Gadi nama sungai itu, dijawab oleh ninik Cilako Meko sungai itu bernama ā€œSungai Amehā€. Dikarenakan ameh nama Ibunya, Raja Pituan Gadi merubah nama sungai itu menjadi Sungai Namo, senama dengan nama Ibunya.

Setelah itu rombongan raja mendaki Bukit Parantian Kalam. Singgah lah raja sementara ditempat itu sambil melihat-lihat, dan tempat itu dinamakan Pemberhentian Tanah Liat (Pambarantian Tanah Liek). Lalu turun ke bawah terdengar ngiang bunyi air sungai (sebab awal dinamakan Sungai Singiang-ngiang/Singingi). Ditujunya sungai tadi dan duduk bersila lah raja di tepian sungai itu. Dalam bahasa Pangkalan bersila=baselo, maka dinamakan tempat itu Sungai Lubuk Rajo Baselo, akan tetapi karena tempo bicara orang desa cukup cepat sehingga disebut Lubuk Lolo.

Perjalanan dilanjutkan kembali oleh raja dan tanpa sengaja bertemulah rombongan raja tadi dengan orang mandi Balik Parit, lalu raja pun turut berhenti ditempat itu. Mulai lah berhadapanlah raja dengan tetua kampung, Setelah duduk berhadapan dengan tetua kampung, Raja pun lalu bercerita tentang perjalanan yang telah dilalui nya maka bernamalah tempat bertemu raja tadi menjadi Pulau Penghadapan, terletak di hilir Lubuk Baselo (Lubuk Lolo). bertanyalah raja kepada datuk Koto Tuo tentang apa yang dibawa nya. Datuk Koto Tuo menjawab bahwa yang dibawa Raja adalah mahkota raja, maka diberi gelar Datuk tadi Datuk Majo Mengkuto oleh Raja.

Kemudian Raja bertanya lagi siapa yang raja , maka dijawablah oleh seorang Datuk dan ia diberi gelar Datuk Nyato, yang berarti orang yang menyatakan raja, orang itu berasal dari suku Patopang. Selanjutnya raja bertanya kembali ā€œkok iyo ambo nan rajo, rajo apokah ambo?ā€ dijawab oleh suku melayu ā€œengko ko nan rajo melayu,ā€ maka diberi gelar orang itu Datuk Rajo Melayu.

Tidak lama mereka tinggal di Balik Parit. Kemudian pindah ke Dusun Kelapa Tumbuh (Dusun Kalapo Tumbuah). Dan ini merupakan perpindahan ke lima yang telah dilakukan oleh penduduk desa, disini pun tidak bertahan lama karena sering terendam banjir, lalu pindah lagi ke hulu Sungai Singingi seberang desa sekarang.

Nama Pangkalan Indarung bermula pada saat Raja kelelahan berjalan setelah berpindah-pindah tempat,lalu ia berteduh dibawah pangkal batang kayu yang rimbun, dalam bahasa kampungnya Naung. Raja bertanya kepada pengikutnya, Lalu raja bertanya, ā€œapakah nama batang kayu tersebutā€? pengikutnya menjawab batang kayu itu bernama ā€œbatang indarungā€ .

Batang kayu itu tumbuh di persimpangan Singingi dengan satu anak sungai. Anak sungai itu dinamakan Sungai Batang Indarung, berada di pinggir desa sekarang. Sejak kejadian tersebut dinamakan Kampung Pangkal Indarung. Sesuai dengan masyarakat yang terus bertambah dan perkembangan ekonomi, tokoh adat dan pemuka desa merubah perkampungan menjadi desa. Setelah perubahan itu Kampung Pangkal Indarung menjadi Desa Pangkalan Indarung.

Antau Singingi

ā€œAntau/Rantau Singingiā€ diartikan dengan suatu daerah kawasan pemukiman yang berada disepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dari Sungai Singingi. Dari tempat Raja bernaung dibawah pohon yang rimbun tadi, lalu ia melanjutkan perjalanan hingga sepanjang Sungai Singingi yang sekarang merupakan terdiri dari 9 koto / negeri diantaranya yaitu :
1. Pangkalan Indarung,
2. Pulau Padang ,
3. Muara Lembu,
4. Logas,
5. Kebunlado,
6. Petai,
7. Kotobaru,
8. Sungai Paku,
9.Tanjung Pauh

Kesembilan negeri ini diberi nama ā€œAntau Singingiā€ dengan pepatah :

ā€œBa Bapak ka Pangkalan Indarung
Ba Ibu ka Tanjung Pauh
Ba Mamak ka Muaralembu di tanah Kojanā€.
Pepatah ini memiliki arti bahwa:
apabila permasalahan yang ada di 9 Koto tidak dapat diselesaikan di daerahnya masing-masing, maka permasalahan tersebut diselesaikan di Muaralembu oleh ninik-mamak dari masing-masing yang bermasalah.
Kemudian Raja Pituan Gadi melanjutkan perjalanan hingga kekerajaan Gunung Sahilan dan kerajaan Siak. Diakhiri dengan kembali ke Pagaruyung. Setiap 2.5 hingga 3 tahun Raja menugaskan bawahannya untuk mengambil pajak berupa emas kesetiap daerah yang telah dilaluinya. Pajak emas karena di daerah Antau Singingi pada saat itu kaya akan Emas, didapatkan dengan cara mendulang.
Selain pepatah 9 koto tersebut ada lagi sebuah sumpah dari hewan di 3 negeri yang berartikan sebelum harimau di padang loweh makan manusia, maka tupai di manganti tidak akan memakan kelapa yang ditanam penduduk, serta buaya di Singingi tidak akan menganggu dan memangsa orang di Singingi. Lebih jelasnya berikut bunyi sumpah tersebut
ā€œharimau di padang loweh,
tupai di manganti dan
buayo disingingiā€
Orang yang dimaksudkan disini yaitu putra asli daerah tersebut bukan orang pendatang dari daerah lain.

Perpindahan Terakhir

Terakhir perpindahan ketujuh terjadi pada awal 1980. Bermula karena desa yang lama terkena musibah banjir sehingga banyak rumah, surau, ternak, dan padi yang hanyut. Banyak kerugian di negeri itu, maka pindahlah ke hulu kampung lama yang berjarak sekitar 100 meter dengan menyebrangi sungai. Karena disitu tanahnya agak tinggi dari kampung lama. Negeri sebelumnya sesudah perpindahan keenam terpa-kai hingga 60 tahun.

Perpindahan desa secara sukarela oleh masyarakat yang bermusyawarah dalam membuat perahu,dan makanan sederhana disajikan dengan makan nasi gulai serta kolak atau biasa disebut konji oleh penduduk desa . Lalu semua rumah pun mulai dipindahkan berangsur-angsuran ke kampung yang baru dengan menggunakan tenaga penduduk desa karena rumah pada zaman dahulu nya mudah dipindahkan karena rumah itu hanya dibuat dari pohon bambu atau kayu yang kuat untuk ditempati oleh penduduk desa, Contoh rumah dahulunya sama seperti rumah panggung yang dinamakan rumah jonjang oleh penduduk desa,Lalu rumah tersebut akan dipindahkan dari kampung hulu ke Sungai Kumbang dan Sungai Katari.

Terakhir tempat tinggal desa dipindahkannya masjid ke negeri baru. Meskipun sebelumnya salat jum’at tetap dilakukan di masjid kampung lama. Setelah ada masjid pada tahun 1981, Mulailah masyarakat merintis jalan darat agar bisa dilalui kendaraan.

Jalan darat akses masuk ke Pangkalan Indarung dari Muara Lembu dirintis. Perencanaan awal dari Kepala desa, ninik mamak, serta cerdik pandai. Pemuda dan orang tetua negeri ikut bergotong royong membantu merintis jalan menggunakan parang,cangkul dan alat lainnya. Mereka membawa nasi dan bekal masing-masing serta bekerja tanpa upah.

Di tahun 1982, terkumpul uang sebanyak Rp1.050.000 bantuan dari 3 desa yaitu Muara Lembu, Pulau Padang, dan Pangkalan Indarung. Uang itu digunakan sebagai biaya menyewa alat berat mengerjakan jalan. Dan pada tahun 1983, jalan darat sudah bisa dilalui mobil. Jukri ialah orang pertama dengan mobilnya yang pertama kali masuk ke Pangkalan Indarung.

Kependudukan dan ketenagakerjaan

Sesuai data yang tercatat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa Pangkalan Indarung tahun 2018-2023. Jumlah keluarga di Desa Pang-kalan Indarung sebanyak 604 KK, dengan terdata 1.054 orang laki-laki dan 1.077 per-empuan. Pangkalan Indarung memiliki luas pemukiman 100 Ha, terbagi menjadi 2 dusun dengan 10 RT.

Jumlah petani di desa ini sebanyak 400 orang dengan luas lahan digarap 50 hektar. Selain bertani, masyarakat desa juga ada berkebun dengan menggarap kebun sawit dan karet, luas lahan perkebunan sampai 3.500 hektar. Untuk pengairan, diandalkan Sungai sekitar. Masyarakat mulai paham tatacara pengolahan sawah sebagai pengganti ladang berpindah-pindah. Akhirnya padi yang ditanam membuahkan hasil, meski belum mencukupi untuk kebutuhan pangan.

Lalu pada 1980, Pemerintah daerah mulai memperhatikan keberadaan sawah di Pangkalan Indarung. Jaringan irigasi dibangun, sumber air nya berasal dari Sungai Sambau. Meskipun belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya tetapi sudah membantu dalam pengairan sawah pada waktu itu.

Perbaikaan kembali dilakukan tahun 2002 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten dengan membangun saluran air menembus Bukit Kubu Hantu agar air bisa dialirkan ke sawah. Percetakan sawah yang akan ditanam waktu itu seluas 25 Ha, tahun berikutnya ditambah lagi seluas 25 Ha. Pemahaman masyarakat dalam mengolah sawah semakin meningkat.

Hasil panen rata-rata mencapai 1½ ton /Hektar. Ini menopang perekonomian masyarakat dari segi sawah pada pangan walau hasil panen belum bisa dijual ke daerah lain. Tahun 2012, cetak sawah baru seluas 25 Ha dilakukan kembali. Tentunya den-gan potensi yang pertanian yang ada tak hanya jadi penopang hidup bagi masyarakat. Lahan pertanian juga bisa dimanfaatkan menjadi wisata edukasi seperti bercocok tanam padi di sawah. Pemandangan persawahan menjadi daya tarik sendiri apalagi bagi masyarakat kota.

Lalu pada 1980, Pemerintah daerah mulai memperhatikan keberadaan sawah di Pangkalan Indarung. Jaringan irigasi dibangun, sumber air nya berasal dari Sungai Sambau. Meskipun belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya tetapi sudah membantu dalam pengairan sawah pada waktu itu. .

Perbaikaan kembali dilakukan tahun 2002 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten dengan membangun saluran air menembus Bukit Kubu Hantu agar air bisa dialirkan ke sawah. Percetakan sawah yang akan ditanam waktu itu seluas 25 Ha, tahun berikutnya ditambah lagi seluas 25 Ha. Pemahaman masyarakat dalam mengolah sawah semakin meningkat. Hasil panen rata-rata mencapai 1½ ton /Hektar. Ini menopang perekonomian masyarakat dari segi sawah pada pangan walau hasil panen belum bisa dijual ke daerah lain. .

Tahun 2012, cetak sawah baru seluas 25 Ha dilakukan kembali. Tentunya den-gan potensi yang pertanian yang ada tak hanya jadi penopang hidup bagi masyarakat. Lahan pertanian juga bisa dimanfaatkan menjadi wisata edukasi seperti bercocok tanam padi di sawah. Pemandangan persawahan menjadi daya tarik sendiri apalagi bagi masyarakat kota. .

Tak hanya bertani dan berkebun, masyarakat desa juga memiliki hewan ternak. Total yang tercatat jumlah kambing, sapi, kerbau pada tahun 2019 hampir 400 ekor. Kebanyakan hewan ternak di Pangkalan Indarung hanya di lepas di gurun, sebutan untuk padang rumput terbuka. .

Warung juga banyak di desa ini, biasanya menjual barang pokok dan kebutuhan harian. Karena jarak yang jauh ke pasar, masyarakat desa biasa berbelanja ke warung. Beberapa kali seminggu pemilik warung akan belanja ke pasar Ibukota Kabupaten. Total jumlah pedagang yang terdata saat itu sebanyak 72 orang. .

Profesi lainnya ialah sopir angkutan, PNS, Guru, Tukang, dan perawat. Umum-nya hanya bekerja di desa. .

Dahulunya lahan berladang di Pangkalan Indarung berpindah-pindah. Masyarakat menggarap sawah jauh dari pemukiman. Karena hasil yang didapat tidak memadai, tidak ada daya transportasi, serta hama tidak terkendali masyarakat tidak melanjutkan berladang dengan cara berpindah-pindah. .

Mamucuak di Lubuk Larangan

Pada saat sekarang ini, Lubuk Larangan di Sungai Singingi Desa Pangkalan Indarung adalah satu-satunya di Kecamatan Singingi. Lubuk Larangan mulai diberlakukan sejak tahun 1980, Aturan ini mulai diberlakukan pada saat perpindahan terakhir warga desa pangkalan. Kondisi aliran Sungai Singingi di Desa Pangkalan Indarung saat itu masih alami dan belum terkena pencemaran serta banyaknya jenis ikan yang ada disungai. Tokoh Adat bersama Pemerintahan .

Desa membuat kesepakatan untuk melarang pengambilan ikan di Sungai Singingi dengan panjang larangan ± 1.500 Meter. Panen ikan atau biasa disebut mamucuak oleh masyarakat, dilakukan sekali setahun sesuai kesepakatan ninia k-mamak dan hasil penjualannya dipergunakan untuk keperluan desa. Setiap panen, ikan dipasarkan kepada masyarakat dengan sistem pemungutan iuran dari Kepala Keluarga sebesar Rp20.000,-/KK. Ikan yang telah dipanen dikumpulkan di satu tempat, dibersihkan, dan dibagikan sama rata sesuai suku.

Berbagai jenis ikan yang ada seperti ikan Tapah yang termasuk rajanya ikan dengan ukuran badan yang besar, Ikan Kalui (Gurami), Ikan Kapiek, Ikan Barau, Ikan Juu, Ikan Mali, Ikan Lelan (nama ikan ini pun berasal dari daerah setempat), serta ada Ikan Gadi, jenis Ikan yang melegenda yang konon merupakan jenis ikan paling lezat.

Tujuan dari pelarangan adalah 1) menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup, 2) memelihara beberapa jenis ikan yang sudah mulai Langka, 3) sebagai wahana untuk menyambut tamu dan daya tarik wisatawan. Dalam pelestarian Lubuk Larangan Masyarakat Desa bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Kuantan Singingi agar tetap menjaga dan menumbuhkembangkan potensi Lubuk Larangan karena nama Lubuk larangan sudah menyebar keberbagai daerah di Riau maupun Provinsi lain.

Peraturan dan sangsi yang dikeluarkan oleh pemangku kepentingan dalam masyarakat apabila ada yang mengambil ikan dan untuk menjaga kelestarian Lubuk Larangan sebagai berikut :

1. Bagi Pemuka Masyarakat seperti Aparatur Pemerintahan Desa besrta jajaran nya, BPD serta Anggota, Pemangku Adat dikenakan denda Rp: 1.000.000.-/ Orang

2. Masyarakat biasa Rp: 500.000.-/ Orang

3. Bagi yang tidak mau membayar denda yang telah disepakati bersama ini akan dikucilkan dari golongan bermasyarakat dan apabila perlu di suruh pergi dari Desa Pangkalan Indarung.

Peraturan ini juga ikut menertibkan untuk mengambil buah-buahan yang belum matang meskipun buah tersebut milik sendiri seperti Durian, Manggis, Ambacang, Salak, Duku, dan lainnya. Serta menertibkan larangan lainnya yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Air Terjun Desa Pangkalan Indarung

a. Air terjun Ombun Barangin

Air terjun ini cukup populer di Pangkalan Indarung. Air terjun alami yang berada dikawasan hutan, berada empat kilometer dari Desa Pangkalan Indarung menuju perbatasan Riau dan Sumatera Barat. Dapat ditempuh menggunakan perahu/ robin.

Selama perjalanan menuju ke air terjun Embun Berangin mata akan disuguhi pemandangan perbukitan Bukit Barisan dan hutan yang masih asri. Mengarungi sungai Singingi yang berair bening dan demikian alami. Selain menikmati hutan perawan juga dapat melihat ikan-ikan yang ada didalam sungai.

Untuk mencapai air terjun harus menggunakan perahu dengan mesin berkap-asitas maksimal tujuh orang. Perahu akan menyusuri sungai menuju hulu selama tiga puluh menit. Dalam perjalanan akan disuguhkan pemandangan hutan dan berbukitan yang masih asri.

Setelah sampai di muara sungai kecil, perjalanan dilanjutkan berjalanan kaki ke dalam. Menyusuri sampai ke hulu sungai dan mendaki lereng bukit. Ditemui beberapa tingkatan air terjun hingga akhir Air Terjun Ombun Barangin. Mendekati bawah air terjun Ombun Barangin perlu masuk dan berenang ke dalam sungai, melewati celah baebatuan yang licin dan kayu yang lapuk dan patah-patah apabila kita menuju kesana dalam kondisi cuaca yang baru turun hujan, dan sebaiknya jika ingin pergi ke air terjun tersebut harus memantau cuaca dahulu sebelum kesana dan baiknya jika kesana dalam kondisi cuaca yang segar dan tidak mendung ataupun juga bisa kesana dalam kondisi air yang tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dangkal, jika bepergian dalam kondisi sungai yang seperti itu kita juga bisa menimakti suasana pemandangan hutan yang asri dan sungai yang tenang serta bisa melihat ikan yang bermacam-macam disungai yang jernih. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit,kita akan disapa oleh embun yang sejuk dan berangin yang berasal dari air terjun tersebut,Lalu sampailah di bawah air terjun yang sangat terasa derasnya air. Sesuai dengan namanya, ombun barangin yang berarti Embun Berangin, air terjun ini berembun dan berangin. Dikarenakan tinggi sekitar 40 meter dan berada di celah tebing. Lalu di bawah air terjun ada semacam lingkaran kolam air yang sangat dalam dengan air yang sangat jernih dan berwarna hijau.

b. Air Terjun sikonda

Selain itu ada juga air terjun Sikonda, Air terjun ini berada sebelum masuk ke desa Pangkalan Indarung. Tak jauh dari jalan masuk desa sebelum jembatan sungai Namo. Dengan memakirkan kendaraan dan berjalan kaki 15 menit sampailah di air terjun ini. Air terjun ini memiliki 2 tingkatan, Tingkat yang pertama dia memiliki curam yang rendah dan tidak terlalu dalam airnya, tapi air terjun ini lebih identic dengan bebatuan yang abstrak diantara air sungai yang mengalir seperti gamba yang disamping.

Sebaliknya pada tingkatan air terjun yang kedua justru memiliki curam yang lumayan tinggi dan air nya lebih deras dari Tingkat yang pertama,kenapa begitu? Karena pada Tingkat kedua ini atau Tingkat yang terakhir namanya,dia adalah penampung air terjun terakhir pada bebatuan yang besar dan licin yang menerima air yang mengalir pada curam yang tinggi,dan setelah itu air nya pun akan mengalir pada sisi-sisi kebun penduduk desa tersebut, dan oleh karena itulah air terjun ini dinamakan air terjun Sikonda karena ada sisi nya yang kontras akan rendah dan tinggi nya air terjun tersebut.

Air terjun ini sudah berdiri sejak lama,dan ditemukan pada saat orang zaman dahulu yang tinggal di daerah ini sebelumnya. Di kawasan air terjun ini masih termasuk hutan lindung dan asri dengan pepohonan tinggi di sekelilingnya. Meskkipun air terjun ini tidak terlalu memiliki curah air yang sangat tinggi seperti pada air terjun yang lainnya, akan tetapi air terjun ini selalu memiliki banyak peminat,terutama karena dia dekat dengan jalan yang sering dilewati oleh warga desa maupun luar.

Total air terjun yang diketahui ada tujuh di Pangkalan Indarung. Air terjun sikonda ,air terjun batang Bubu, air terjun Ghe nchagh, Air Terjun Sungai Pighau, Air Terjun Biru, Air terjun Ombun barangin, Air terjun Ngalau.

Air terjun yang ada di desa ini masih ada beberapa bagian yang masih bisa ditelusuri dan masih sering dikunjungi oleh warga desa maupun pendatang, misalnya seperti Air Terjun Ombun Barangin, Air Terjun Ngalau, Air Terjun Biru, Air Terjun Ghencagh dan Air Terjun Sikonda, itu semua adalah air terjun yang sampai sekarang masih dijejak langkahi oleh masyarakat. Dan untuk Air Terjun Batang Bubu dan Air terjun Sungai Pighau, sudah lama tidak dijumpai oleh warga atau pun jika bisa dijumpai Air Terjun itu mungkin berada dekat dengan kebun beberapa warga, dan dahulunya sering dijumpai warga karena perjalanan menuju hilir sungai, dan sekarang air terjun itu pun sudah jarang sekalli terdengar ditelinga warga.

Budaya Desa Pangkalan Indarung

Tempat makanan yang berbentuk curut seperti tudung saji atau biasanya disebut Tabak makanan, berisi makanan seperti nasi, lauk, gulai, bojik, buah, minum, dan sebagainya Tabak biasanya dihantarkan oleh Ibu-ibu ke Masjid atau ke Tempat keramat pada Hari Raya untuk dimakan bersama-sama. Dan seperti yang ada pada gambar disamping bahwa ada seorang niniak mamak atau cerdik pandai yang berdiri ditengah-tengah rumah tempat kuburan keramat itu berada yang sedang menjelaskan tujuan atau macam masalah, mereka akan langsung menuju pada tetua ini agar bisa menemukan solusinya.Dan tidak banyak yang peristiwa dahsyat yaitu kekeringan yang melanda seluruh warga kampung, air sumur mereka kering bahkan air sungai pun sudah berlumut hijau saking susah nya air pada masa itu, akan tetapi warga desa percaya akan leluhur mereka yang bisa membantu mengatasi kekeringan yang menimpa mereka, dan pada suatu hari berangkatlah warga desa ke seberang Sungai dimana tempat itulah yang menjadialasan tradisi seperti itu dilakukan sama seperti dengan tahun sebelumnya. Adanya tradisi ziarah besar atau tradisi ziarah bersama ke makam Tuanku keramat namanya, Tuanku ini Adalah orang yang sangat disanjungkan dulunya pada saat beliau ini masih hidup, dan dari cerita orang-orang yang pada zaman dahulunya, dia ini adalah orang tetua yang memiliki ilmu semacam yang bisa mentafsirkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik peristiwa besar yang melanda warga desa

Meskipun warga desa selalu percaya kepada tuhan yang maha esa, akan tetapi tradisi itu tetap dilaksanakan sekali setahun oleh warga desa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka yang telah terdahulu, dan tradisi ke tompat lokek / ke tempat kuburan dekat namanya selalu dilaksanakan setelah puasa syawal 6 hari,dan mereka menyebut itu dengan merayakan raya ke 2 setelah puasa syawal. Tompat lokek itu dahulunya sebuah rumah kuburan yang panjangnya hanya 10x5 m. dan sekarang sudah bertambah lebih besar,tempat itu digunakan untuk warga desa agar bisa ziarah bersama dengan tempat yang nyaman dan aman. Dulunya tempat itu hanya pondok kecil dan dibawahnya masih tanah yang dialasi tarpal / karpet agar bisa ditempati oleh penduduk sekitar, tapi Sekarang tempat ziarah itu sudah diperbaiki berdindingkan kawat yang melindungi rumah itu dari hewan yang berkeliaran dan lantai nya yang sudah berkeramik dan ada 3 kuburan yang dinamakan kuburan keramat di ujung rumah itu. Selain itu, tradisi masih terus dilestarikan, seperti mendoa panen, hari raya, prosesi tolak bola, prosesi turun mandi, dan masih banyak lainnya

Daftar Referensi